|
|
comments (0)
|
LULUS SEKOLAH TAK HARUS DIRAYAKAN DENGAN CORETAN
Kelulusan sekolah biasanya identik dengan budayacoret-coretan. Hal ini biasanya berlangsung setelah siswa selesai melaksanakanUjian Nasional atau pada saat siswa dinyatakan lulus. Hal yang sudah menjadi tradisiselama bertahun-tahun dan seakan melekat di kognitif kolektif siswa bahwa kelulusan harus dirayakan dengancoretan, dan dilanjutkan dengan konvoi keliling kota.
Berbeda dengan kebiasaan para siswa padaumumnya, SMP Islam Raden Patah sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN) di Depokmengubah tradisi coret-coret dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat.Selesai melaksanakan Ujian Nasional para siswa tidak akan dipulangkan dan akanberkumpul di dalam sekolah. Kegiatan ini diisi dengan penjelasan mengenaisekolah lanjutan (SMA & SMK), green community (komunitas hijau) sebagaiproses penanaman kesadaran siswa untuk mencintai lingkungan sekitarnya, danditutup dengan renungan dan do’a. Acara ini telah berlangsung selamabertahun-tahun dan sudah menjadi tradisi tahunan pada saat kelas IX selesaimelaksanakan Ujian Nasional.


|
|
comments (0)
|
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Pada hari minggu tanggal 22 februari 2009,saya beserta teman-teman perwakilan dari SMP ISLAM RADEN PATAH,telah mengikuti kegiatan seminar narkoba yang di laksanakan di AULA SDIT RAHMANIYAH DEPOK yang dihadiri oleh remaja SLTP sekota Depok dan Bapak Wakil WaliKota Drs. H. Yuyun Wira Saputra.
Dalam kegiatan tersebut kami,khususnya diri saya peribadi merasa sangat senang dengan diadakannya kegiatan tersebut,karna saya bisa banyak mendapatkan pelajaran mengenai dampak dari penyalahgunaan nakoba.
Namun mengingat masih banyaknya penyalahgunaan narkoba, kami menghimbau agar BNK(Badan narkoba kota depok)lebih memperhatikan pergaulan -pergaulan anak remaja yang kini tak terkendali khususnya dikota Depok ini. .
Selain itu kami menghimbau kepada seluruh orang tua harus lebih memperhatikan pergaulan anak-anaknya dengan cara memberikan pelajaran tentang bahaya narkoba.Salah satunya dengan mengikut sertakan anak-anaknya dalam kegiatan seminar narkoba, seperti yang telah kami laksanakan.
Dengan diadakannya kegiatan tersebut , khususnya saya pribadi yakin para remaja yang telah mengkonsumsi narkoba akan sadar bahwa mengkonsumsi narkoba sangat berbahaya bagi tubuh terlebih mengkonsumsi narkoba juga dilarang oleh Agama . Oleh karena itu , kami menghimbau agar diadakanya kembali kegiatan tersebut dengan menghadirkan artis-artis mantan pecandu agar suasananya lebih seru, misalnya dengan mengundang SLANK...pasti lebih banyak yang datang...DITUNGGU YA BAPAK KETUA BNK.
KETUA OSIS SMPIRAPAT
DEDE ROHMAT
|
|
comments (1)
|
Teater sebagai Gerak Budaya
Oleh S. Yoga
Menurut Subagio Sastrowardoyo, Dalam Bakat Alat dan Intelektualisme, seni merupakan unsur ekspresi yang paling penting di dalam budaya. Seni bahkan sering juga disamakan belaka dengan budaya. Budaya sendiri memiliki makna yang lebih luas dalam bidang lingkupnya daripada seni belaka, tetapi dalam fungsinya mengucapkan pengalaman kemasyarakatan dan kemanusiaan, senilah yang paling sanggup menyuarakan pengalaman itu dengan lebih langsung, menyeluruh dan lengkap. Ekspresi seni, apa pun bentuk dan gayanya, adalah total, sekaligus dan tanpa sisa. Kehidupan budaya menemukan pada seni alat ekspresinya yang paling tepat dan utuh. Karena itu tidaklah jauh dari kebenaran, hingga muncul identikasi budaya dan seni.
Tulisan ini mencoba mengurai benang merah apa yang pernah dilakukan oleh para teaterawan, yang akhir-akhir ini rasanya kehilangan ?kreativitasnya?. Sementara itu, gerak budaya lewat aksi-aksi teaterikal justru muncul dari kalangan aktivis, baik buruh, mahasiswa, maupun LSM. Mereka tidak lagi terkungkung dengan batas ruang pementasan. Tempat bisa saja di jalanan, plaza, timbunan sampah, depan walikota, gedung DPR/MPR, kebun, maupun trotoar. Tema pun bisa tentang apa saja, semisal dalam menyikapi hari lingkungan hidup, hari bumi, hari buruh, hari anak, maupun dalam menanggapi kebijakan pemerintah kenaikan BBM, kebijakan sampah.
Apa pun pilihan bentuk, isi pementasan atau aksi akan menjadi tanda, cara, strategi kebudayaan dalam mempengaruhi, merespons kondisi sosial dan budaya yang sedang terjadi. Dari pilihan-pilihan strategi ini, nantinya diharapkan semangat para teaterawan tergugah untuk kembali berkreativitas. Dan, dari alternatif-alternatif yang ada mereka dapat menentukan apa yang harus dilakukan. Dalam hal ini, kebenaran menjadi kata kunci yang selalu diagungkan dalam wujud pementasannya. Kebenaran juga berkait erat dengan kebaikan dan keindahan. Pada akhirnya, wujud seni pementasan teater juga akan mempengaruhi keefektivitasan gerak budaya pada tataran selanjutnya.
Seni untuk Masyarakat
Secara garis besar, bila kita cermati perjalanan para teaterawan di Tanah Air selama ini, ada enam kecenderungan dalam cara penyampaian dan berekspresi.
Yang pertama merupakan manifestasi budaya massa. Jadi, benarkah budaya massa?TV, majalah, koran, iklan?begitu mempengaruhi kondisi berkesenian kita? Karena banyak pementasan yang menyiratkan adegan sinetron, misteri, detektif, dan film laga. Yang mengharu-biru penonton dengan realitas di angan-angan; watak budaya massa. Bisa jadi tanpa sadar para pelaku pementasan yang bernapas budaya massa adalah produk gilang-gemilang rekayasa budaya Orde Baru yang memang membatasi gerak budaya. Budaya kritis dan analitis terhadap keadaan selama 32 tahun telah dibungkam. Maka lahirlah budaya massa yang bersifat menyenangkan saja, wishful thinking, realitas yang terjadi di dalam lamunan saja. Hal ini memang dikehendaki Orde Baru agar tak ada lagi yang mampu mengkritik kenyataan sosial-budaya yang saat itu terjadi, yang sebenarnya membekap daya cipta dan daya hidup masyarakat. Justru fenomena pementasan seperti ini secara sosiologis telah mengungkapkan ketertindasan itu secara jujur dan tanpa disadari.
Akhirnya mereka menyikapi naskah dengan asal jadi pertunjukan, baik naskah bikinan sendiri maupun adaptasi. Yang muncul di pentas tak lain konflik fisik dan kata-kata, karakter tunggal: flat character menguasai pementasan. Bentuk seninya masih dicari-cari dengan kreativitas yang belum begitu terasah. Akhirnya usaha seni yang mestinya mampu memberi kontribusi gerak budaya yang berarti belum tercapai. Akibatnya, kesadaran sosial dan kemasyarakatan menjadi terabaikan. Untuk pementasan, umumnya mereka memilih panggung atau gedung. Mungkin dalam benak mereka panggung dan gedung merupakan syarat utama sebuah pertunjukan teater. Bisa kita simak, sebagai contoh dari kasus yang pertama adalah teater-teater dadakan, baik dalam lomba teater maupun dalam pementasan-pementasan tujuh belasan, hari ulang tahun.
Bentuk kedua membuat dan memperlakukan naskah dengan cara bermain-main. Modal mereka cenderung melawak, seperti gaya srimulat dan komedi. Kecenderungan ini bisa mengoptimalkan unsur satire dan komedinya jika pelaku menahan nafsu melawak. Memang seni adalah ekspresi kreatif, tanggapan, dan renungan seniman terhadap masyarakatnya. Ekspresi yang muncul pun bisa jadi bersifat hiburan. Akhirnya, yang mengemuka hiburan semata dan tema sosial, politik, budaya menjadi tidak begitu penting. Alhasil sumbangan terhadap gerak budaya juga tak banyak. Mungkin yang bisa menyelamatkan pementasan-pementasan semacam ini hanyalah segi hiburan yang direspons sebagai ajang ?pelarian? dari impitan kehidupan yang penuh kekerasan. Padahal, bila digarap dengan baik, bukan tidak mungkin pementasan semacam ini menjadi alternatif yang menyegarkan. Setidaknya, kita bisa menertawakan diri sendiri.
Ketiga, meski dikemas rapi dan baik, pertunjukan meninggalkan lubang besar pada kejiwaan tokoh-tokohnya. Kelompok ini sebenarnya cukup menguasai teknik teater. Namun, mereka kerap tergoda dengan hasrat pemberontakannya sehingga tidak sabar dan tidak jeli dalam menggarap teknik penyampaian (khususnya) di naskah. Dan rupanya kredo dari kelompok-kelompok ini memang sudah mengkhususkan diri yakni teater kesadaran yang didaktis. Jika kelompok ini bisa keluar dari rasa ?amarah? yang berlebihan, tentu hasilnya akan merupakan bentuk seni yang menarik. Seni bukanlah entitas yang mati, melainkan menjadi gerakan kesadaran. Ia dinamis sejalan dengan kesadaran manusia. Bentuk seninya akan menggoncang kesadaran manusia-manusia yang dikooptasi budaya birokrasi dan kesewenang-wenangan penguasa: dalam arti rekayasa budaya. Dan akhirnya seperti yang dikatakan George Lukas, seni dalam bentuk ini akan menunjukkan spiritnya yang sejati, menggeliat, meronta, berteriak melawan situasi yang menindas, menghancurkan kemanusiaan. Karena itu sejalan dengan daya hidup manusia dan gerak budaya sebenarnya. Karena modal utama kekritisan dan daya analisis yang secara akal budi terhadap fenomena kemasyarakatan yang sedang terjadi mereka kuasai. Sehingga bentuk seninya akan mampu menerobos ke masa depan.
Keempat, memilih naskah yang sublim, tetapi ekspresi seninya kurang mendapat porsi yang optimal. Sebenarnya, mereka bisa menggarap lebih jeli lagi, mengerahkan segala daya kreativitas untuk mewujudkan kompleksitas karakter: round character. Pementasan mereka akan lebih memberikan siraman rohani. Batin kita merupakan roh dari gerak budaya. Mereka mampu menyebarkan gagasan, tema yang penting guna pencerahan masyarakat yang telah dikepung segala silang sengkarut kenyataan. Mereka akan mampu merefleksikan daya cipta yang mereka temukan secara sublim dari ruang batin masyarakat yang tengah dikooptasi, dibungkam. Bila dapat mengoptimalkan bentuk seninya, kelompok-kelompok semacam ini adalah potensi besar bagi perteateran kita.
Kelima, fenomena lain yang kerap kita jumpai dalam pementasan teater, baik di gedung kesenian maupun di kampus-kampus. Munculnya pertunjukan yang penuh dengan konflik kata-kata, konflik fisik, konflik adegan, terampil beratraksi, pandai beretorika, mencomot sana-sini istilah yang lagi keren di periklanan, digabungkan dengan teknologi, politik dan dihampirkan pada agama, jadilah pementasan teater. Ditambah penguasaan medium lewat trik-trik adegan, jadilah pertunjukan yang menakjubkan inderawi, bagai film futuris atau sirkus. Urusan peran untuk sementara dilupakan.
Yang lebih penting adalah apa yang ingin disampaikan dalam pementasan, khususnya yang menyangkut demokrasi, HAM, rakyat kecil, dan kemiskinan telah mampu tersampaikan dalam pementasan itu. Pementasan menjadi alat untuk mencapai tujuan tertentu yang berujung pada kemanusiaan. Maka terjadilah sebuah revolusi dalam teater yang konon dikembangkan kaum pembaharu yang tidak puas pada ?seni untuk seni?. Maka yang penting adalah seni untuk masyarakat. Apalah gunanya seni bila tidak bicara tentang kehidupan masyarakat yang tertindas.
Keenam, mereka bersikap santai dalam menyikap kehadiran ruang pementasan. Tak perlu gedung khusus untuk memanggungkan karya-karya mereka. Yang penting, maksud dan tujuan pementasan bisa sampai ke masyarakat luas. Bentuk seninya umumnya berupa performance art di jalan-jalan, pasar, swalayan, kampus. Tujuannya mengkritik isu yang sedang berkembang, semisal kerusakan lingkungan, pengusuran, kekerasan dan lain sebagainya. Istilahnya seni instan?yang nota bene juga cukup efektif untuk membangun gerak budaya menuju demokratisasi. Pementasan-pementasan semacam ini yang akhir-akhir ini marak, sebagai sikap budaya tanding terhadap budaya global-arus besar yang mendesakkan kepentingan mereka.
Dari berbagai kecenderungan pementasan ini, kita dapat menentukan pilihan terhadap kelompok teater. Dari berbagai kelemahan yang ada, baik kurang optimalnya daya ekspresi?bentuk dan isi maupun wawasan nilai sastranya. Diharapkan dalam kesempatan mendatang kelompok-kelompok tersebut dapat membenahi diri, bukan hanya katarsis inderawi semata. Hal ini berkait dengan potensi?SDM?bagi jagad perteateran kita. Keseimbangan antarkeduanya adalah hal yang sangat penting di dalam karya teater-sastra. Keseimbangan keduanya akan memunculkan kebenaran dalam berkesenian yang bisa menerobos melampaui batas-batas moral yakni gambaran-gambaran keadaan yang humanis. Dalam titik ini ukuran estetikanya, bentuk seninya berperan membimbing manusia dalam melakukan pencarian berbagai bentuk kemungkinan masyarakat humanis, gerak budaya yang lebih demokratis.
Memang karya sastra yang baik juga haruslah menyuarakan semangat zaman, zeitgeist. Atau lebih dalam lagi, ia tak akan lekang oleh waktu. Namun dengan semangat zaman yang temporer dan membabi-buta, ia tak lebih sebagai sebuah propaganda yang nilainya cuma sesaat. Tak ada kedalaman renungan hidup. Yang ada hanyalah usaha penumpulan kecerdasan dan kehalusan budi kita?tidak memberi keaktifan, pertanyaan dan kegelisahan hidup?padahal kerja kebudayaan adalah sebaliknya. Di sinilah letak dilematis ekspresi seni teater dan umumnya. Dan di sini pula letak pentingnya kedudukan seni di dalam kehidupan. Ia bukan lokomotif demokrasi tapi ia gerak roh budaya demokrasi itu sendiri. Yang akan membimbing manusia di dalam menempuh gerak budaya, kapan pun manusia hidup secara lebih manusiawi. ***
|
|
comments (0)
|
|
Kepentingan Dibalik Dunia Pendidikan |
|
Sabtu, 10 Mei 2008 |
|
Oleh : Endrizal, Mahasiswa Pasca Sarjana UGM Yogyakarta. Realita sekarang ini, kalangan pendidik dan kepentingan pendidikan masih
sangat jauh dari sebuah kepentingan dan kebutuhan bersama, dimana pendidikan
masih menjadi korban dari penguasa, pendidikan masih kalah bersaing dari pada
kepentingan ekonomi, politik dan social. Pendidikan sekarang hanya dijadikan
sebagai jalan pelicin menuju tampuk kekuasaan oleh sebagian kelompok yang
tidak bertanggung jawab. Tidak bisa kita pungkiri bahwa pendidikan bangsa
kita masih berada dalam kondisi serba keprihatinan. Mulai dari kekurangan
tenaga pengajar, fasilitas pendidikan hingga sukarnya masyarakat untuk
mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup. Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini sangat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas. Pembunuhan kreatifitas ini disebabkan, karena paradigma pemerintah Indonesia yang mengarahkan masyarakatnya pada penciptaan tenaga kerja untuk pemenuhan kebutuhan industri yang sedang gencar-gencarnya digalakkan di Indonesia. System pendidikan yang dipakai adalah system prakmatis. Konsekuensi yang didapat dari sistem pendidikan praktis tersebut tidak lebih hanya akan melahirkan anak bangsa yang gagab dalam menghadapi perkembangan dunia. Mereka hanya mempunyai keahlian diatas kertas bukan keahlian dalam realitas. Sistem pendidikan yang dipakai lebih mengutamakan kepentingan industrialis-kapitalis, sehingga dalam menghadapi kemajuan zaman mereka hanya mengandalkan otot bukan lagi otak. Dalam segi keterampilan mereka juga tertinggal jauh dari Negara-negara lain. Sistem pendidikan nasional sekarang ini masih cenderung mengeksploitasi
pemikiran peserta didik. Indikator yang dipergunakanpun cenderung menggunakan
indikator kepintaran, sehingga secara nilai di dalam rapor maupun ijazah,
tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun
bertahan di tengah gencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini.
Mereka mampu berbicara berbagai hal, tapi tidak mempunyai kematangan dari
sebuah konsep yang dipakai. Pendidikan juga telah menjadi sebuah industri. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijazah hingga jual-beli nilai. Belum lagi diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk. Pendidikan hanya berlaku bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi yang entah kapan bisa terealisasikan. Sistem pendidikian seperti ini jelas-jelas bertolak belakang sekaligus mengalami pergeseran fungsi pendidikan yang telah digagas ?Ki Hajar Dewantara?, bahwa pendidikan adalah sebagai ajang untuk mencerdaskan anak bangsa, tapi sekarang yang terjadi adalah sebagai ajang untuk mencerdaskan anak orang kaya. Sebab, perbedaan kelas masih menjadi anarki sekaligus ideologi bagi kalangan pemerintahan kita. Hal ini jelas-jelas bertentangan sekali dengan UUD 45 yang mengatakan bahwa mendapatkan pendidikan adalah hak semua orang, tanpa kecuali anak orang miskin. Jangan sampai pembedaan yang selama ini telah dibuat oleh pemerintah, sebagai langkah awal pembodohan bangsa, seperti yang dilakukan oleh kaum kolonialis tempo dulu. Sudah seharusnya pemerintahan kita meratakan pendidikan bagi anak bangsa, sebab pendidikan adalah sarana paling fundamental guna mencapai kemajuan sebuah bangsa, jangan sampai keegoan pemerintah akan membunuh asset bangsa yang sangat berharga ini. Dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulai dengan sebuah cara pandang, bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir dan daya nalar, serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Sistem pendidikan yang mengebiri ketiga hal tersebut hanyalah akan menciptakan keterpurukan sumberdaya manusia yang dimiliki bangsa ini yang hanya akan menjadikan Indonesia tetap terjajah dan tetap di bawah ?ketiak? bangsa asing. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana sistem pendidikan di Indonesia menciptakan anak bangsa yang memiliki sensitifitas terhadap lingkungan hidup dan krisis sumber-sumber kehidupan, serta mendorong terjadinya sebuah kebersamaan dalam keadilan hak. Sistem pendidikan harus lebih ditujukan agar terjadi keseimbangan terhadap ketersediaan sumberdaya alam serta kepentingan-kepentingan ekonomi dengan tidak meninggalkan sistem sosial dan budaya yang telah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Jangan sampai kita terlalu berlarut-larut dalam budaya warisan kolonialisme yang lebih cendrung membunuh daya kritis anak bangsa hanya demi kepentingan sebagian kelompok. Sebab, ketika sistem pendidikan telah dimasuki oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu, maka, hasil yang didapat bukan lagi mencerdaskan anak bangsa, tapi malah pembodohan anak bangsa. Sebab, hasil yang didapat dari sistem pendidikan tersebut hanya akan memuaskan kepentingan golongan tertentu, bukan memuaskan kepentingan bersama.(***) |